22.3.10

Izwan sampai di rumah ketika hari sedang memasuki hening petang, bayu desa lembut membelai mesra menyentuh pohon-pohon dan dedaun melambai-lambai menyambut kepulangannya. Desa yang lama di tinggalkan, seperti sudah terlalu jauh di tinggalkan. Jernih air sungai menyiram batu-batu menyapanya ketika melintasi gertak usang yang bernyanyi-nyanyi sewaktu tayar motosikal memijak kayu-kayu yang terdampar kesepian. Anak-anak seluang berkejaran di gigi-gigi air. Sedang pepatung terbang menjentik-jentik lemah di air tenang. Burung-burung bebas melayang menyanyi riang di udara dan ada yang merengek-rengek di sarang. Unggas-unggas petang bersiul-siul kegirangan seperti ada yang menjentik galak mendendangkan lagu-lagu alam. Sungguh tenang dan permai desa ini.

Tetapi apakah yang dapat menghibur hati Izwan? Husin masih di Singapura, Mashitah bukan di sini tetapi Melaka. Kartini sudah berhijrah ke Kota Bharu, Eh Chan pula sudah pergi jauh buat selama-lamanya. Dengan siapa lagi dia boleh membelai jiwanya, kosong, sepi teramat sepi. Tiada siapa lagi di sini, tinggal hanya kenangan-kenangan yang selalu menjelma pada malam-malam sebelum mata menutup lena. Keseorangan, kesit di mana-mana. Ketika di luar rumah Husin dengan Eh Chan yang di cari. Ketika di dalam rumah Mashitah dan Kartini yang menjenguk hati. Tersiksa.